July 15, 2020

Apa Itu Tes Serologi Covid-19?

Pandemi Covid-19 membuat masyarakat kita sadar atas pentingnya kesehatan. Banyak diantara mereka yang secara sadar untuk melakukan pemeriksaan tes Covid-19. Pemerintah pun menjembatani dengan pemberian rapid tes Covid-19 secara masal. Namun, banyak juga masyarakat yang secara mandiri melakukan tes ini diberbagai klinik atau RS.

Nah, salah satu tes Covid-19 yang tersedia adalah ‘Tes Serologi Covid-19’. Sebenarnya bagaimana seh cara kerja tes ini, yuk simak penjelasannya dengan membaca artikel ini sampai selesai ya biar kita semua paham bener tentang apa yang dimaksud dengan tes serologi Covid-19.

Beda antara antiobi dan antigen
Jika tes serologi dipakai untuk keperluan diagnosa, surveillance (pengawasan, kontrol, atau observasi), atau keperluan epidemologi maka antibodi dan antigen adalah dua serum protein yang harus diperhatikan.

Apa itu antibodi? Antobodi adalah protein khusus yang memiliki bentuk seperti huruf ‘Y’ dikenal juga dengan sebutan imunoglobulin yang diproduksi oleh tubuh sebagai reaksi tubuh terhadap partikel asing (seperti virus, bakteri, dll), nah partikel asing ini disebut sebagai antigen.

Pada saat antibodi mengenali ada antigen di dalam tubuh maka secara otomatis antibodi ini menjadi penda dimana sel imun akan bereaksi untuk menghancurkan antigen tersebut. Proses ini sangatlah spesifik. Artinya satu antibodi hanya bisa bekerja untuk satu jenis antigen tertentu. Jika di analogikan seperti ‘gembok’ dan ‘kunci’

Apa artinya? Antibodi untuk tes HIV hanya dapat dipakai untuk mengenali antigen HIV begitu juga dengan antibodi Covid-19 juga hanya bisa dipakai untuk mengenali antigen spesifik SARS-CoV-2.

Protokol tes serologi Covid-19
Serum darah dikumpulkan dari seseorang yang ingin melakukan tes kemudian di aplikasikan pada platform alat tes yang mengandung antigen virus Covid-19. Serum darah akan mengalir dengan metode kapilaritas yang selanjutnya akan bercampur dengan antigen. Jika seseorang tersebut didalam tubuhnya sudah diproduksi antibodi terhadap SARS-CoV-2 maka antibodi tersebut akan bereaksi dengan antigen dan mengindikasikan bahwa seseorang tersebut pernah terekspos oleh SARS-CoV-2.

Platform alat tes yang dipakai untuk serologi Covid-19 yang ada di pasaran saat ini ada dalam berbagai bentuk antara lain ‘Flow Assays, ELIZA (enzyme-linked immunosorbent assays), atau chemiluminesen imunoassay. Jenis pengujian tersebut berbeda dari bagaimana mereka mendeteksi ikatan antara antibodi-antigen.

Antigen
Keakuratan interpretasi dari tes serologi sangat tergantung dari spesifitas antigen yang dipergunakan. Antigen ini bisa berupa protein, polisakarida, ataupun lipid. Namun jika antigen ini tidak spesifik terhadap patogen (sumber penyakit) maka kemungkinan terjadinya reaktifitas-silang (cross-reactivity) serta reabilitas tes akan menurun. Berikut adalah beberapa jenis antigen yang dipakai untuk mendeteksi antibodi SARS-CoV-2.

  1. Sipke Protein
    Spike protein dikenal juga dengan ‘S Protein’ adalah protein unik yang berbentu seperti jamur yang terdapat didalam permukaan virus yang berfungsi untuk memfasilitasi virus agar dapat masuk ke dalam sel. Tiap monomer S protein terdiri dari dua subunit yaitu S1 dan S2 yang masing-masing berfungsi untuk terhubung dengan sel dan memfasilitasi fusi membrane sel. Baik subunit S1 atau S2 bisa dipergunakan secara individual atau kombinasi sebagai antigen untuk tes serologi.
  2. Nukleokapsid
    Protein nukleokapsid (N Protein) adalah RNA yang terikat pada protein yang memerankan peran secara srtuktural atau nonstruktural untuk terjadinya infeksi.
  3. Receptor Binding Domain (RBD)
    RBD adalah bagian dari protein subunit S1 yang mengikat enzim angiotensin-converting 2 (ACE2) yaitu reseptor sel manusia untuk SARS-CoV-2.
3D animasi bentuk SARS-CoV-2 sumber gambar ww.ASM.org

Antibodi
Interpretasi yag akurat pada tes serologi tidak hanya tergantung pada spesifik antigen (baca penjelasan diatas) namun juga pada antibodi yang akan diperiksa. Manusia memiliki 5 kelas antibodi dimana masing-masing memainkan peran yang unik dalam sistem imunitas. IgM, IgG, IgA, dan total antibodi adalah target utama tes serologi Covid-19.

IgM
IgM adalah antibodi pertama yang dihasilkan oleh tubuh selama proses infeksi terjadi. Ekspresi IgM bisa dalam bentuk monomer yang terikat pada permukaan sel B limfosit atau dalam aliran darah dan sistem kelenjar limfa dengan pentur pentamerik. IgM pentamerik terdiri dari 5 antibodi yang bergabung besama membentuk struktur cincin. Antibodi IgM akan segera hilang dengan sendirinya pada awal-awal infeksi, IgM adalah antibodi terbesar yang ada didalam tubuh dan kelimpahannya hanya 10% dari seluruh antibodi tubuh.

IgG
IgG adalah antibodi dengan ukuran terkecil didalam tubuh dan melimpah bersirkulsi didalam tubuh, terdapat dalam bentuk monomer, dengan kelimpahan 80% dari total antibodi serta terutama terdapat didalam serum. IgG baru muncul biasanya 2-4 minggu setelah terjadinya infeksi. IgG memiliki peran yang penting seperti menetralkan mikroba, dan menarget mikroba untuk dihancurkan oleh sel imun tubuh. IgG memerankan peran penting untuk penegakan post-infection immunity.

IgA
IgA adalah antibodi yang bertanggung jawab untuk meindungi permukaan mukos, berbentuk dimer dan dapat ditemukan di serum, sekresi mukosa, saliva, air mata, keringat atau ASI.

Reaktifitas-Silang (Cross-Reactivity)
Uji serologi Covid-19 didisain untuk spesifik terhadap SARS-CoV-2 namun bagaimana kita bisa tahu bagaimana uji ini tidak berinteraksi dengan coronavirus yang lain? reaktifitas silang dengan coronavirus yang umum (cCoV) akan sangat merugikan karena 6-75% anak-anak memiliki antiobi terhadap satu atau dua cCoV, dan 90% orang dewasa ditas usia 50 tahun memiliki antibodi terhadap empat cCoV. Beruntungnya tidak banyak identitas sequence yang terdapat antara SARS-CoV-2 dan cCoV (kira-kira 21-34% AA homologi).

Bagaimana dengan keluraga terdekat SARS-CoV-2? SARS-CoV-2 dan SARS-CoV berbagi 90% identitas asam amino N protein dan 77% untuk S protein. SARS-CoV-2 dan MERS-CoV berbagi 49% identitas asam amino N protein dan 33% S protein. Dari data ini menggaris bawahi bahwa penggunaan S antigen protein untuk meningkatkan spesifitas tes serologi.

Bagaimana jika hasil tes serologi Covid-19 adalah reaktif?
Data terbaru mengindikasikan bahwa antibodi IgM terhadap SARS-Co-2 akan diproduksi dalam sirkulasi darah pada minggu pertama setelah terjadi infeksi terhadap covid-19, selanjutnya antibodi IgG akan terbentuk kurang lebih 14 hari setelah terjadinya infeksi.

Sebagai hasilnya, deteksi IgM , IgG, atau keduanya terhadap SARS-CoV-2 akan mengindikasikan seseorang telah terinfeksi virus sebelumnya.

Belum ada data yang menunjukkan bahwa seseorang yang telah memiliki antibodi terhadap SARS-CoV-2 akan terproteksi dari terjadinya reinfeks.

Apa itu tes SWAB Covid-19?
Tes swab covid-19 merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi adanya SARS-CoV-2 dimana tes ini disebut juga dengan PCR (polymerase chain reaction). Prinsip tes ini adalah sama dengan tes viral load untuk mengukur jumlah virus HIV pada ODHA.

Yang dianalisis dalam tes swab atau PCR adalah DNA atau RNA virus, artinya jika tes SWAB untuk covid-19 maka yang dianalisis adalah DNA atau RNA SARS-CoV-2. Walaupun sampel yang dipakai mengandung sedikit material genetik, tes PCR mampu melipatgandakan jumlah DNA atau RNA tersebut.

Tes SWAB dilakukan dengan mengambil sampel dari saluran pernafasan seseorang yaitu bisa melalui hidung atau tenggorokan. Sampel ini kemudian di tempatkan ke wadah khusus dan dikirim ke laboratorium.

Menurut situs Sehatq.com tes swab diperlukan untuk:

Orang dalam pemantauan (ODP)
Pasien dalam pengawasan (PDP)
Orang yang memiliki kontak erat dengan pasien COVID-19
Pasien dengan hasil rapid test yang positif

Referensi


https://www.asm.org/Articles/2020/May/COVID-19-Serology-Testing-Explained

https://www.vumc.org/coronavirus/latest-news/antibody-testing-covid-19-what-it-tells-us-and-what-it-doesnt

https://www.sehatq.com/tindakan-medis/swab-test-corona

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *