Selamat Jalan Kawanku Laksmana

Square

cerita gay yang mengharukan

Saya mengenal cowok ganteng satu ini dari aplikasi Wechat. Iseng berada di kosan seharian, akhirnya kubuka Wechat dan menyapa cowok dengan foto profil yang menarik perhatianku. Rambutnya hitam lurus memahkotai wajahnya yang tirus, wajahnya mulus putih mengkilat bagai raut muka model yang rutin melakukan perawatan di salon.

Dari sekedar chit chat yang tidak jelas akhirnya berujung pada undangan ke tempat kosnya. Laksamna orangnya asik bahkan kami sempat lupa waktu karena keenakan mengobrol berdua. Dari obrolan ini beberapa kisa hidupnya hampir mirip dengan kisah kehidupanku.

Laksmana asli Bandung, sejak kecil merindukan kasih sayang seorang Ayah yang dengan tega meninggalkan Ibu serta ketiga saudaranya demi menikahi wanita lain. Selepas SMA dia lari ke Jakarta untuk mencari penghidupan yang lebih layak.

Di ibukota Laksmana tak kesulitan untuk mendapatkan teman gay, bermodal paras yang memang diatas rata-rata diapun merasa tidak sendirian di tengah hiruk pikuknya kehidupan Jakarta. Pertemanan dengan teman sehati pun dia dapatkan dengan mudah. Hingga dengan hasil kerja kerasnya pun dia berhasil menjadi model ibukota.

Pengaruh metropolitan untuk bergaya hidup hedonisme membuat Laksmana tergelincir dengan hutang kartu kredit. Gaji sebagai admin yang tidak seberapa membuat dirinya harus rela menggesek uang plastiknya untuk berbagai keperluan demi menuruti kehidupan glamour gay nya. Ujung-ujungnya kalau lagi butuh dana mendadak yang terpikirkan hanya credit card.

Aku semakin mengenal Laksmana sejak aq pindah kos bersebelahan pintu dengan kamar kosnya. Seringnya berbagi cerita membuat saya mengerti bahwa sebenarnya Laksmana adalah anak yang perhatian pada Mamanya, dia penuh dengan ambisi salah satu impian terbesarnya adalah menjadi salah satu cover majalah kesehatan untuk cowok paling top di Indonesia dan mengadopsi anak.

Tapi sayangnya semua cita-cita Laksamana tidak akan bisa terwujud. Beberapa bulan terakhir ini dia sering mengeluh demam, sesak nafas, dan tubuhnya perlahan-lahan menjadi kurus. Bahkan sering kali dia pergi bekerja dalam kondisi tubuh yang tidak fit, demam dan pusing sering melanda dirinya. ‘mau gimana lagi kalau gak kerja kena teguran dan dipotong gaji’, jawabnya jika aku melarangnya untuk masuk kerja.

Hingga puncaknya dia benar-benar tidak bisa melakukan aktifitas, kondisinya lemah dan sebagian besar hanya berbaring di atas kasur. Seringkali aku bertandang ke kamarnya untuk sekedar membelikan makanan atau mengajak mengobrol untuk menyemangatinya.

“Kamu gak berobat ke rumah sakit Laks,” tanyaku.

“Boro-boro ke rumah sakit Ray, untuk makan saya aq seringkali berutang. Gajiku habis untuk bayar tagihan kartu kredit. Neh aq hanya mengandalkan obat yang aq beri diwarung depan kos” jawabnya dengan nada pelan.

“Temen-temenmu kemana loh, dulu waktu kamu sehat kamu sering keluar dengan mereka,” tanyaku lagi untuk mengisi keheningan kamar.

“Mereka bukan temenku Ray, mereka hanya mau berteman denganku disaat aq sehat dan dalam keadaan senang. Mendengar berita kalau aq sakit mereka semua pada mencemoohku dan menghindari aq, layaknya mereka tak mengenal siapa diriku,”

“Tahukah kau Ray, walau kita belum lama mengenal tapi kamu mau merawatku dan menjagaku. Dan aq sangat menghargai semau perbuatanmu. Tahukah kau Ray, teman gay bagaikan serbuk bunga mereka banyak tapi gampang juga pergi ketika ditiup angin. Hanya teman yang meletakkan nilai pertemanan diatas having fun adalah teman yang patut kita pertahankan,”

Ketiadaan uang untuk berobat mmebuat Laksmana semakin stress memikirkan kesehatannya, bahkan dia pun merasa ketakutan dengan asumsi dirinya jangan-jangan dia positif HIV. Alhasil diapun hanya bisa pasrah meratapi nasibnya di kamar kos seorang diri.

Mungkin karena tidak kuat akhirnya dia pun menghubungi keluarganya. Sebulan yang lalu dia dijemput untuk kembali ke Bandung. Denger-denger dia sempat dirawat di rumah sakit dengan hanya mengandalkan asuransi kesehatan yang saat ini digalakkan pemerintah.

Tapi sayangya beberapa hari lalu saya ditelpon Mamanya yang mengabarkan jika dia meninggal karena suatu penyakit. Mamanya meminta maaf jika Laksmana ada salah, dan mengikhlaskan kepergiannya. Ingin rasanya menangis mengingat semua penderitaan yang dihadapi Laksmana saat akhir-akhir masa hidupnya.

Selamat jalan temanku Laksamana semoga semua amal ibadahmu diterima, Amin.

Ditulis berdasarkan cerita FTL kepada admin situs TemanSehati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *