Sedih, Satu Teman Memutuskan Berhenti ARV

Square

apa yang terjadi jika odha berhenti arv

Saya mengenal teman yang satu ini saat dia membuka status HIV nya di salah satu rumah sakit. Mengingat 4 tahun lalu, wajah yang bersangkutan kelihatan sedih mendengar dia di vonis positif HIV.

Di rumah sakit yang sama dan waktu yang bersamaan, masuklah satu orang teman lagi rujukan dari rumah sakit blitar yang mendaftar agar dia bisa mengambil obat di layanan kesehatan tempat saya mengambil ARV.

Nah, manajer kasus di rumah sakit tersebut akhirnya mengenalkan saya dengan dua orang ini. Melihat ada satu teman yang statusnya newbie HIV serta kelihatan stress maka kami bertiga pun mengajak anak ini untuk makan siang diluar sambil ngobrol santailah tentang HIV.

Di pojokan resto ayam goreng terkenal dipinggir jalan besar kota Surabaya kami berempat menikmati ayam goreng berempah plus minuman bersoda sambil saya dan teman saya menjelaskan bahwa ‘tidak masalah menjadi odha sebab saat ini ada ARV yang bisa membuat orang positif HIV bisa hidup dengan sehat’, saya masih ingat dengan wajah yang sedikit bingung bercampur kecemasan teman odha baru saya menelan informasi yang kami berikan di dalam kepalanya.

Disaat inilah saya mengerti bahwa role model odha yang sudah berhasil menjalani terapi ARV sangat penting dijadikan contoh bagi seseorang yang baru pertama kali mengetahui statusnya. Odha yang mengenal odha yang lainnya akan timbul perasaan bahwa mereka tidak sendiri.

dan empat tahun pun berjalan dengan cepatnya………

Teman saya yang satu ini akhirnya mendapat program tes VL gratis dari salah satu perusahaan distributor ARV. Seminggu setelah tes hasilnya pun diterima poli VCT. Saya kaget setelah dia menghubungi saya bahwa ternyata virusnya masih terdeteksi, ada sekitar 63rb copy dalam tiap mililiter darahnya.

Saya ingat bahwa dia pernah tidak minum ARV selama kurang lebih seminggu. Dan dari pengakuannya ada penambahan bolong ARV beberapa minggu lagi saat teman saya ini bertugas ke luar kota.

‘ Paling kalao ditotal bolongnya cuma sebulan, tapi kenaa VL nnya terdeteksi ya’, katanya.

Petugas layanan kesehatan pun memberikan konseling untuk teman dan menginformasikan bahwa dia kemungkinan akan masuk ARV lini dua.

Namun sayangnya teman saya ini saat itu memutuskan butuh waktu guna mencerna keadaannya dirinya guna bisa menentukan langkah yang tepat katanya. Ekstrimnya dua minggu lalu dia mengatakan pada saya bahwa dia akan berhenti arv.

‘Saya mau berhenti ARV dan berganti ke herbal, aku takut efeknya nanti pas awal minum ARV yang mungkin menyebabkan saya tidak bisa bekerja’, tuturnya.

Oh Tuhan sedih rasanya mendengar keputusan teman saya yang akan stop ARV. Satu-satunya alasan yang tidak bisa saya terima adalah dia takut efek samping ARV baru yang akan dia konsumsi pada saat tubuh sedang beradaptasi dengan arv lini dua.

Emang sih saat awal dia minum ARV dulu tahun 2014 lalu dia dikasih duviral neviral, sayangnya tubuhnya tidak bisa menolerir neviral hingga timbul alergi berupa ruam kulit. Alhasil teman saya ini tidak masuk kerja beberapa hari lantaran penyembuhan alergi.

Katanya sih kalau dia sampai ga masuk kerja beberapa hari dia bisa di PHK. Beberapa kali dia memang bercerita kalau di kantornya sedang terjadi banyak pengurangan tenaga kerja.

Banyak hal lain yang membuat saya sedih kenapa dia ga mau minum ARV lagi sebab saya dan dia sudah banyak melewati kebersamaan bersama.

Kami sering sholat tarawih bersama di mesjid agung Surabaya saat bulan puasa tiba, bahkan di sepertiga minggu terakhir di bulan Ramadhan kami sering sholat malam disana.

Saat teman saya ini mengalami kecelakaan di jalan by pass menuju krian, malah dia menelpon saya dan manajer kasus rumah sakit agar bisa menemani dia sampai saudaranya bisa menjemputnya.

Sudah tidak terhitung saya dan dia jogging di mesjid agung, bahkan sekedar ngobrol sembari makan sering kami lakukan.

Hal-hal inilah yang membuat saya dekat dengan dia, sebagai sahabat sih bukan yang lain. Bahkan saya sering mengucapkan ‘aku sayang kamu sebagai teman kepadanya,’ hehehehe.

Mulut ini sampai kering mengingatkan dia bahwa akan banyak buruk yang akan terjadi kalau dia berhenti ARV, sayangnya dengan halus dia masih menolak untuk tidak kembali ke rumah sakit.

Saya tidak sanggup kehilangan kamu, saya sudah melihat banyak sekali teman yang sudah kembali ke dunia lain disebabkan mereka berhenti ARV.

Lewat tulisan ini, saya hanya ingin mengatakan, ‘kembalilah ke layanan rumah sakit untuk memulai pengobatan lini dua. Aku sayang kamu, aku tidak sanggup untuk kehilangan kamu,’

Saya akui saya sedikit paranoid, umur memang hak prerogratif Tuhan tapi selama kita masih bisa berusaha untuk bisa sehat, Tuhan pastinya menghargai usaha kita bukan?

Teman semoga kamu sehat, aku sayang kamu, dan aku selalu mendukung apa pun keputusanmu. Peluk dan Cium buat kamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *