Pesan Bagi Kamu Yang Belum Menemukan BF

Square

Jujur pertama kali BF-an tahun 2004 beberapa bulan setelah masuk di dunia per-gay-an. Namun sayangnya hanya berlangsung beberapa bulan dengan pasangan pertama saya ini. Setelah putus dari si ‘W’ ini akhirnya saya kenal si ‘J’ karena saya dikenalkan oleh salah seorang temen saya.

 

Si ‘J’ ini nembak saya tepat di hari ulang tahunya. Saya masih inget 12 Desember 2004, saya diajak makan di salah satu restaurant terkenal dikota kelahiran saya dan ini merupakan pengalaman saya makan dirumah makan seumur hidup saya. Bisa dibayangkan kan betapa kikuknya saya sampai urusan pesan menu saja saya serahkan ke dia heheheh. Setelah ngobrol sana sini maka resmilah saya punya BF yang kedua.

 

Bersama si ‘J’ saya merasa punya kakak, waktu itu usia saya 24 tahun dan dia 34 tahun. Dia itu orangnya mengayomi, melindungi, dan tentu saja sayang banget. Bayangkan selama 5 tahun pacaran kalau dia ngajak keluar saya selalu dijemput. Urusan makan kalau dia yang ngajak hang out dia yang bayarin. Saya masih inget waktu itu buah pelir saya bengkak satu terus saya merasa kesakitan, dia dengan cepat datang ke kos dan mengantar saya ke rumah sakit.

 

Tapi sayangnya Tuhan punya rencana lain. Ditahun keempat kami BG-an si J sakit-sakitan. Pertama keluhannya lambungnya sakit. Kemudian beberapa bulan kemudian tubuhnya mulai kurus. Dalam setahun dia tiga kali bolak-balik masuk rumah sakit. Sekali masuk minimal dua minggu perawatan. Awal 2010 tubuh saya juga banyak keluhan dari kena tipes hingga penurunan berat badan yang tidak beralasan. Hingga akhirnya si J mengaku jika dia positif hiv. Dua bulan setengah setelah dia mengaku kepada saya, Tuhan pun memanggil arwahnya. Kontrak dia di dunia sudah usai.

 

7 Tahun Menjomblo

Setelah si J meninggal, hidup saya terasa sepi. Tidak ada lagi orang yang bisa saya buat bermanja-manja, tidak ada yang menjaga saya, tidak ada orang yang siap membantu saya saat saya membutuhkan dukungan. Well, teman sih lumayan banyak tapi tahu sendiri lah BF dan teman berbeda. BF yang sudah tahunan bersama akan memiliki ikatan emosional dengan kita.

 

Kehilangan si J membuat saya harus mandiri. Jangan dikata saya tidak merasa kesepian. Setahun pertama saya tidak bersamanya saya merasa tidak berdaya. Cenderung menyendiri dan bahkan komputer menjadi teman setia saya.

 

Tahun kedua sudah mulai membuka diri. Mulai agak sering kumpul dengan teman dan mulai berkenalan dengan para gay yang ada disekitar saya. Ada seh beberapa temen deket tapi saya tetep merasakan masih belum bisa cocok dengan ttm tersebut. Ibarat kata belum klik lah, kayak botol belum ketemu tutupnya.

 

Bahkan saking merasa putus asanya saya dalam usaha mencari pacar saya sampai menganggap bahwa mungkin jodoh saya hanya sekali seumur hidup. Tuhan sudah pernah memberi orang yanb benar-benar menyayangi saya sehingga sampai tujuh tahun lamanya saya tidak pernah bertemu dengan calon pacar saya. Bahkan saya pun lupa rasanya disayangi seseorang, lupa rasanya dimanja seseorang, lupa rasanya bagaimana bisa berbagai dengan orang yang kita cintai. Ekstrimnya sampai saya tidak percaya bahwa cinta itu akan menghampiri saya.

 

Penantian itu pun berakhir indah

Saya pernah cerita bahwa pertengahan Januari lalu ada seseorang yang menghubungi saya. Pria ini lebih tua 6 tahun dari saya. Awalnya kami sering bertelpon ria lewat WA, saling bercerita tentang keadaan personal masing-masing. Hingga kerena merasa cocok maka saya memutuskan untuk bertemu dengan Pria ini walau saya harus menempuh perjalanan 12 jam lewat kereta.

 

Pertemuan awal saya sudah tertarik dengan Pria ini. Walau dalam hati terdapat ketertarikan  namun saya tidak berharap banyak. Saya tahu dia sedang dekat denga  orang lain yang saya nilai lebih cakep dari saya dan usiannya bahkan masih sangat muda.

 

Setelah pertemuan pertama dia membalas kunjungan saya dengan datang ke kota saya. Dia mengaku bahwa kami hanya sebatas teman dan menganggap saya sebagai adiknya, walau saya pernah mengatakan bahwa saya tertarik dengannya. Katanya sih rasa sayang ada tapi masih sedikit. Kami pun masih sering berkomunikasi via WA.

 

Dipertemuan kami yang ketiga, kata Pria ini dia merasa bahwa sudah timbul benih benih cinta heheheheh. Katanya saya ngangenin, katanya rasa kasihan karena saya odha membuat timbul rasa cinta sama saya. Dan si Pria ini mengungkapkan cintanya pada saya. Jujur dalam hati saya merasa bahagia sebab semua perlakuan dia terhadap saya selama kami bertemu membuat saya merasa bahwa saya disayangi.

 

Pria ini mengatakan pada saya bahwa dia sering kangen saya sama,  tidak bisa berpisah dalam waktu yang lama. Katanya kalau lagi kangen obatnya harus segera bertemu. Dan saya pun merasakan hal yang sama.

 

Saya menemukan sosok pria dewasa pada dia, dia suka sekali menasehati ke saya. Yang sering dia katakan adalah sudah sedewasa ini kok hidupnya belum mapan, heheheheh . Walau perkataan itu bagai tamparan terhadap saya tapi saya tahu bahwa dia mengatan hal itu karena dia sayang saya. Di memacu saya untum bisa melanjutkan sekolah Magister agar saya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik.

 

Saya melihat ada cinta dimatanya, ada rasa kasih sayang dalam setiap tindak tanduknya pada saya dan yang paling spesial adalah saya kagum dengan pengorbanannya mau menerima saya yang odha ini untuk menjadi pasangaannya. Saya tahu tidak banyak orang yang non positif mau menerima atau pastinya akan berfikir terlebih dahulu jika ingin memiliki pasangan yang positif hiv.

 

Yang menjadi pertanyaan saya sekarang ini adalah kenapa dia memilih saya? Apa benar rasa iba karena saya memiliki virus hiv bisa menimbulkan rasa cinta pada seseorang. Pria ini bisa saja kok memilih teman brondong dekatnya yang jauh lebih cakep, dan saat ini sedang melanjutkan S2 untuk jadi BF nya, atau memilih teman lamanya yang juga ganteng untuk jadi BF nya. Tapi katanya dia sudah memutuskan untuk memilih saya.

 

Saya tahu pengorbanannya, dan saya sangat berterima kasih karena dia mau menerima saya dalam keadaan demikian. Satu hal yang ingin dia ketahui adalah saya sangat mencintai dia, sayang sama dia, dan saya akan menjaga cinta ini agar kami bisa menjaga hubungan ini hingga periode yang lama.

 

Saya berdoa pada Tuhan semoga mas saya ini diberi kesehatan, diberi rejeki yang cukup, dan dia bisa mendapat kebahagiaan selalu. Saya cinta jenengan mas ‘TY”,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *