cara minum arv yang paling baik

Banyak hal yang membuat orang tidak patuh ARV. Salah satunya adalah banyaknya jumlah obat yang diminum setiap harinya bagi orang dengan HIV. Tiga regimen obat yang di jadikan satu menjadi tablet FDC (Fixed Dose Combination) adalah salah satu perkembangan terapi ARV yang menonjol beberapa tahun terakhir. Setelah kemunculan FDC yang berkomposisi tenofovir-lamivudin-efavirenz kini muncul beragam FDC dengan komposisi yang berbeda. Tablet sekali minum tentu saja berdampak psikologis yang baik, alih-alih memasukkan tiga obat ke dalam mulut sekaligus, maka satu tablet tentunya memiliki dampak yang positif yang jauh lebih menenangkan.

Kepatuhan minum ARV sangat menentukan keberhasilan terapi seseorang, dimana hal ini bisa dibuktikan dengan tes viral load yang hasilnya tidak terdeteksi. Menghentikan terapi beberapa minggu hingga beberapa bulan sangatlah berbahaya. Hal ini bisa memicu bangkitnya perkembangbiakan virus HIV, merusak sistem kekebalan tubuh, atau timbulnya peradangan yang tidak berhubungan dengan kondisi AIDS.

Oleh sebab itu pemerhati HIV AIDS banyak yang memikirkan bagaimana usaha atau cara untuk membangun munculnya adherence yang cukup baik. Salah satunya datang dari peneliti Rolland Landman dkk, Universitas Diderot Paris yang melakukan penelitian untuk mengkaji kemanjuran dan keberhasilan terapi ARV jika cara minum ARV diselingi dengan beberapa hari off dalam satu minggu. Penelitian ini di presentasikan dalam ’10th International AIDS Society Conference on HIV Science’, yang berlangsung di Meksiko pekan ini.

Landman mengumpulkan 636 partisipan dengan menggunakan metode open-label, random, dan multisentris orang dengan HIV dari berbagai penjuru Perancis. Dimana partisipan ini telah menjalani terapi lebih dari 12 bulan dengan hasil viral load tidak terdeteksi serta tidak memiliki resistensi terhadap rejimen ARV. Median usia partisipan yaitu 49 tahun, 85% nya adalah laki-laki, dan median CD4 689 sel/mL. Varian rejimen ARV dari partispan adalah NRTI 56.3%, TAF/FTC 16.3$, protease inhibitor 6%, NNRTI 46%, dan 48% integrase inhibitor.

Penelitian dimulai sejak 7 September 2017 hingga 22 Januari 2018. Dari 636 partisipan kemudian dibagi menjadi dua group (318 tiap group yang dipilih secara random). Group pertama tetap mempertahankan untuk minum ARV selama setiap hari 7/7, sedangkan kelompok yang lain minum ARV dengan ketentuan 4 hari berturut-turut dan tiga hari berikutnya off 4/7. Kunjungan pasien terakhir untuk melakukan pengecekan variabel di lakukan pada 4 2019.

Hasil penelitian
Pada minggu ke 48 kedua group menunjukkan supresi virus dengan tingkat yang tinggi yaitu 95.6% untuk group yang terapi 4/7 dan 97.2% untuk group yang 7/7. Perbedaan nilai dari kedua group secara statistik tidaklah memiliki perbedaan berarti, artinya bisa terjadi karena suatu kebetulan. Tidak ada perbedaan yang berarti terhadap terjadinya ‘blips’ viral load pada kedua group. Ini artinya bahwa menurut penelitian tersebut komsumsi 4 hari arv dan tiga hari off adalah sama bagusnya dengan konsumsi arv setiap hari. Hanya 6 orang (1.9%) dari group 4/7 yang gagal untuk mencapai viral load tidak terdeteksi, sedangkan group 7/7 terdapat 4 orang (1.3%). Tiga orang dan satu orang mengalami resistensi dari masing-masing kedua group secara beruutan.

Penelitian ini adalah riset yang sudah mencapai fasa III, peneliti akan menambah beberapa variabel pengukuran untuk penelitian selanjutnya seperti kepatuhan, konsentrasi obat, biomarker inflamasi dan aktivasi sistem imun, dan pengukuran viral load di cairan semen.

Referensi
http://programme.ias2019.org/Abstract/Abstract/4817

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *