Kesempatan Kedua, Why Not ?

Square

Saya tuh sering bilang kepada teman-temen odha bahwa mengetahui status positif sejak dini itu ibarat berkah, loh kok bisa? Saya contohkan saja seperti ini, si A dideteksi 6 bulan lalu dibarengi dengan infeksi oportunitis TB. Singkatnya karena kondisi yang tidak memungkinkan mengharuskan dia berhenti bekerja untuk fokus ke pemulihan kesehatan.

Setelah enam bulan berjalan, penyakit TB nya dinyatakan sembuh dan terapi ARV nya masih berjalan dengan tingkat kepatuhann100%, si A saat ini segar bugar dan dia bisa mendapatkan perkerjaan lagi serta mulai melanjutkan kehidupan seperti dia tidak pernah tahu bahwa dia positif. Bukankah hal ini berkah? Apalagi bukan kesempatan kehidupan yang kita dapatkan dari Tuhan?

Contoh si ‘A’ yang saya berikan diatas bukan sebatas cerita fiktif belaka sebab selama 1,5 tahun mendampingi odha di rumah sakit saya menemukan banyak temen-temen dengan kasus yang sama bahkan ada yang lebih parah yang kini dengan terapi arv mereka bisa hidup sehat layaknya orang tidak punya infeksi.

Menjadi orang yang terinfeksi hiv mungkin dalam pikiran Anda merasa tidak ada lagi masa depan yang cerah, kemungkinan Anda akan cepat mati, atau Anda merasa sangat-sangat kecewa terhadap diri Anda. Tapi tahukah Anda penelitian mengenai hiv dan Aids memiliki perkembangan yang sangat pesat dua puluh tahun terakhir jika kita bandingkan dengan penelitian penyakit lain. Walaupun obat masih dalam proses untuk ditemukan, orang positif hiv sekarang bisa hidup jauh lebih lama sertabsehat dengan pengobatan yang tepat.

Bahkan saya pernah berpikir terinfeksi HIV jauh lebih enak jika dibandingkan jika terkena peyakit lain. Saya contohkan saja penderita hiv boleh makan apa saja asal makanan tersebut tidak membuatnya alergi, bandingkan dengan penderita diabetes yang jumlah kalori makanannya saja dibatasi.

Contoh lain penderita kanker dimana harus melakukan kemoterapi yang efeknya bisa berakibat kerontokkan rambut, hilangnya nafsu makan, atau bahkan mual. Kita penderita hiv yang diwajibkan konsumsi arv hanya merasakan efek samping mual ringan, pusing diawal kita konsumsi obat itu tapi begitu tubuh bisa beradaptasi maka efek itu hilang dengan sendirinya.

Jika Anda secara sadar pernah melakukan kegiatan yang beresikp misalnya em el tanpa menggunakan kondom dan suatu saat ternyata positif hiv tidak perlu merasa bahwa Anda merasa rendah diri yang ujung-ujungnya timbul penyelasan dan penyangkalan. Yang ingin saya garis bawahi disini adalah terimalah bahwa akan ada resiko disetiap tindakan yang dulu pernah Anda lakukan.

Orang berbohong pada pasangan saja dikemudian hari pasti ada resiko yang akan kita terima. Apalagi dulu kita pernah melakukan hubungan yang beresiko. Terimalah kenyataan bahwa Anda saat ini positif hiv, berdamailah dengan diri sendiri, keluarga, teman, dan lingkungan kemudian tentukan langkah selanjutnya kita mau berbuat apa dengan status positif kita.

Teman, dengan terapi Arv kita sebagai odha laksana di beri kesempatan hidup kedua. Kita bisa sehat dan melakukan banyak hal yang sebelumnya mungkin belum pernah kita duga.

Gak penting seberapa buruknya Anda dimasa lalu, jika Anda saat ini punya simpanan 5, 10, atau bahkan 20 tahun lagi sehat karena arv maka masak Anda tidak mau mengumpulkam banyak kegiatan yang positif, lebih banyak berkarya, lebih banyak memupuk pahala, dan lebih banyak menabur kebaikan di dunia ini. Siapa yang akan peduli dengan masa lalu Anda? Yang terpenting itu adalah hasil akhir bro. Jika kita dulunya baik dan sekarang menjadi jahat maka orang mungkin akan mengenal Anda sebagai orang yang buruk. Tapi jika dulunya anda hitam dan sekarang menjadi putih atau kalau tidak bisa abu-abu lah maka orang akan mengingat Anda sebagai orang yang baik.

Salam diberi kesempatan kedua dari orang yang sudah tujuh tahun konsumsi Arv.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *