Israel – Cerita ODHA Saya

cerita gay positif hiv indonesia

Sebagai seorang gay, ‘came out’ atau membuat pengakuan kepada orang lain bahwa diri kita adalah homo adalah salah satu hal yang terberat dalam hidup. Ketakutan bahwa keluarga dan teman tidak menerima kamu apa adanya dan kemungkinan besar kamu bisa saja kehilangan orang yang sangat penting dalam hidupmu.

Tahukah Anda apa ketakutan terbesar setelah saya bisa menangani masalah ‘came out’ ini? Yaitu mengakui bahwa saya adalah gay yang positif HIV.

Jika ditarik kebelakang beberapa tahun yang lalu, saya pergi ke klinik untuk pemeriksaan VCT. Kunjungan ini adalah untuk pertama kalinya selama saya hidup saya melakukan tes darah di klinik VCT. Saya melakukan hal ini sebab saat itu saya kencan dengan pasangan baru, dan saat itu saya merasa semua akan baik-baik saja.

Seminggu setelah test saya menerima telpon dari dokter saya. Dia meminta saya hadir di klinik dan berbicara secara privat. Jantung saya seolah berhenti saat itu saat dokter mengatakan bahwa, ‘hasil tes kamu positif’.

saya cukup jelas mendengar hal itu namun otak saya tidak bisa memproses apa yang dikatakan dokter selanjutnya. Oh kenapa saya?, jangan saya, Tuhan jangan saya, hanya kata-kata itu yang terlintas di otak.

Selanjutnya saya menemui diri saya menangis, dan samar-samar dokter berbicara di telepon untuk meyakinkan bahwa saya dalam keadaan baik hingga akhirnya telepon pun terputus.

Dalam keadaan lunglai saya pergi ke sebuah bar yang ada di sebelah rumah. Di dalam bar saya segera menelpon ayah saya.

Ayah: ‘apa yang terjadi nah?’
Saya: ‘Saya merasa bingung dan ga tahu harus melakukan apa’
Ayah: ‘Stop. Ceritakan apa yang terjadi kamu menakuti aq nak’
Saya: ‘Dokter baru saja menelpon dan mengatakan bahwa saya positif’
Ayah: ‘Kamu dimana sekarang nak’
Saya: ‘Di bar’
Ayah: ‘Jangan katakan kalau kamu sedang minum-minuman, aku ingin kamu segera keluar dan pulang ke rumah’
Saya: ‘Saya bingung sekarang’
Ayah: ‘Jangan takut, itu hanya HIV bukan AIDS’

Tanpa sepengetahuan saya Ayah saya membuatkan janji dengan dokter. Dia membawa saya ke klinik dan disana dokter di loby menyambut kedatangan saya. Kami berdua duduk di ruangan dokter sambil berbicara mengenai CD4, T-Cell, dan setelah melakukan beberapa test dokter mengungkapkan hasil test dengan hanya berkata ‘jumlah virusnya sedikit’, ‘beruntung’, ‘masih dalam keadaan sehat’, dan ‘langkah selanjutnya adalah….’

Saya pun mengatakan status saya kepada anggota keluarga saya. Saya tidak tahu bagaimana kedua orang tua saya bisa menerima penyakit saya, dan saya tak mampu mengingat akan memori itu sebab hal itu penuh dengan tangisan, kesedihan, dan ratapan.

Saat ini saya sudah putus dengan kekasih saya, dan saya membina hubungan dengan lelaki lain yang jauh mencintai saya dan tidak peduli dengan status saya. Teman-teman saya pun menerima saya apa adanya. Dan mereka tidak pernah malu akan status saya.

Saya telah belajar bahwa ‘saya bukanlah apa yang ditunjukkan oleh status saya, melainkan saya adalah apa yang saya lakukan kesehariannya. Saya bukan hanya gay yang positif tapi saya adalah diri saya sesungguhnya,’
Cerita ini disadur dari laman AVERT.