Hari Ini 8 Tahun Yang Lalu

Square

Januari, 27 2010

Saya masih ingat dengan baik delapan tahun yang lalu tepatnya hari Jum’at 27 Januari 2010 saya ga pingin bangun pagi. Rasanya pingin banget hanya berbaring ditempat tidur sambil memeluk guling, tanpa melakukan apa-apa. Ya hanya sendiri, enggak pingin memikirkan ini itu, berbaring saja ditempat tidur smbil meratapi nasib.

Namun, karena hari itu saya ada janji dengan salah satu manajer kasus rumah sakit yang ada di Surabaya maka saya memaksakan diri untuk menggerakan kaki bangun dari tempat tidur dengan malas-malasan guna menuju kamar mandi dan sekedar sarapan sebisanya.

Beruntung salah satu teman saya bersedia mengantar saya ke rumah sakit. Kondisi badan yang lemas, sering demam ga jelas, hingga berat badan yang sudah turun drastis hingga tubuh saya kelihatan hanya tinggal kulit dan tulang. Celana yang saya pakai sehari hari pun kedodoran yang mustahil bisa nyangkut ke pinggang saya tanpa bantuan ikat pinggang. Untuk menyembunhikan keadaan saya ini saya hanya mau memakai kaos lengan panjang yang di dobeli dengan jaket biar kelihatan aga gemukkan. Bahkan untuk jalan sepuluh langkah saja saya ngos-ngosan, serasa tenaga terkuras dari tubuh hingga saya selalu meminta untuk istirahat sebentar setiap kali berjalan beberapa langkah. Karena tidak memungkinkan mengendarai motor sendiri maka Tino teman saya dengan senang hati mengantar saya ke rumah sakit.

Tiba di rumah sakit memang agak siang sekitar pukul 10 lebih. Konselor dari poli VCT mengabarkan bahwa konselor sedang tidak berada diruangan dan saya harus membuka hasil tes HIV setelah selesai sholat jum’at.

Saya dan teman saya menunggu di selasar poli yang ada di lantai tiga, ruangan tunggu poli VCT yangbterlihat sepi. Hanya ada kami berdua duduk di ruang tunggu yang cuma terdapat empat bangku warna biru yang terhubung satu sama lain. Sesekali terlihat satu atau dua orang lalu lalang untuk pergi ke kamar mandi. Poli vct rumah sakit ini terletak di pojok sendiri bersebelahan dengan kamar mandi, jadi orang yang pergi ke toilet dari poli psikolog dan akupuntur akan melewati poli VCT. Tak banyak orang yang berkunjung di poli saat itu, suasana lantai tiga sepi, kosong, seperti halnya pikiran saya yang hampa. Teman saya yang duduk disebelah saya bahkan tidak banyak berbicara seolah-olah dia memberikan kesempatan bagi saya untuk menikmati kesendirian berdialog dengan ruh saya.

Bahkan pada saat sholat Jum’at saya tidak bisa fokus mendengarkan kotbah dari penceramah. Pikiran saya bergulat dengan hal-hal yang semuanya negatif. Bagaimana jika hasilnya positif, melihat keadaan saya uang sudah drop maka hasil reaktif adalah hal yang masuk akal. Tapi otak saya menyangkal serta berusaha untuk meyakinkan bahwa hasilnya akan negatif. Rasanya ingin menangis tapi air mata tidak bisa keluar. Saya hanya duduk bersila sambil dari dalam hati berkata ‘Ya Tuhan say tidak ingin mati saat ini’.

Alhamdulillah, setelah kembali dari mesjid. Pak Putro seorang konselor dari pihak rumah sakit sudah berada di poli VCT. Saya dipersilahkan masuk ke ruangan konseling. Ruangan ini ta begitu luas hanya terdapat tiga buah sofa warna kuning didalamnya. Saya dan Pak Putro duduk berhadapan dengan dibatasi meja kaca yang terdapat amplop warna putih, yang saya yakin itu adalah hasil lab tes vct saya.

‘Mau dibuka sendiri atau saya yang buka’, kata beliaunya. Sambil Pak Putro menunjukkan amplop untuk memastikan bahwa kode yang tertulis di amplop itu adalah kode saya. ‘Bapak saya yang buka deh’ jawab saya dengan suara pelan. ‘Tapi setelah dibuka tunjukkan kesaya ya Pak kertasnya’, ucapku lagi.

Ya Tuhan tiga reagen menunjukkan contrengan pada kata reaktif. Saya tahu artinya. Saya positif. Saya hanya terdiam memandangi kertas yang ada di atas meja. Pingin nangis tapi air mata ini kenapa tidak mau keluar. Pingin ada seseorang yang menawarkan pelukan hingga saya bisa menangis dibahunya sepuas puasnya tapi saat itu diruangan hanya ada Pak Putro.

Dalam hati saya hanya bisa membantin, ‘ya pasti lah hasilnya akan positif’ melihat kondisi tubuhku yang sudah menampakkan gejala kesakitan. Apalagi dua hari yang lalu BF ku Jerry mengirim SMS yang memberitahukan bahwa dia positif HIV. Saya tak bisa menyangkal pikiran saya lagi. Dan karena dia positif itu maka Jerry merekomendasikan saya untuk cek di rumah sakit yang sama.

Ya Tuhan bagaimana saya bisa positif HIV apalagi empat hari lagi adalah ulang tahun say yang ke-30. Ini kado terburuk sepanjang hidup saya. Bf juga lagi sakit sehingga tahun ini tidak ada acara merayakan ulang tahun berdua. Ditambah kondisi keuangan yang lagi seret.

‘Bisakah saya membayar biaya tes lab dan lainnya nanti?’
‘Saya ga pingin mati muda Tuhan, saya masih pingin membahagiakan orang tua saya’
‘Saya ga mau dirawat di rumah sakit, mau ga mau harus rawat jalan untuk menghemat biaya’
‘Bagaimana saya memberitahukan orang tua saya, say ga mau mereka tahu kalai saya kena HIV’

Semua pemikiran itu memenuhi otak saya. Hampir setengah jam Pak Putro memberikan konseling. Saya pun keluar dari ruang konseling dan memberitahu sahabat saya bahwa saya positif.

‘Sabar ya….’, ucap Tedy dengan rasa penuh iba.

Januari, 27 2018

Alhamdulillah, Tuhan masih memberikan saya kesehatan dan kesempatan kedua untuk bisa menikmati kehidupan didunia ini. Sepanjang delapan tahun kebelakang saya telah melewati banyak hal menyenangkan dalam kehidupan saya.

Tahun 2011 saya untuk pertama kalinya bisa naik pesawat ke Jakarta mengikuti salah satu acara seminar MLM. Didalam pesawat bahkan saya mengucapkan banyak syukur atas pencapaian kesehatan saya, 2012 dan 2013 bahkan saya kembali naek pesawat ke Bali untuk acara yang sama.

Tahun 2012 saya akhirnya bisa kenal denga teman yang juga odha dan sampai hari ini masih menjadi tema saya dan kondisinya masih sehat walafiat. Dia adalah teman odha saya yang pertama kali. Saya begitu senang banget waktu itu bisa kenalan dengan sesama odha. Mungkin karena kita sama-sama senasib namun akhirnya saya tahu ini merupakan bagian penting dari kenapa dibentuknya KDS atau kelompok dukungan sebaya agar odha bisa memiliki tempat untuk berbagi.

Tahun 2014 saya dipertemukan dengan banyak teman-teman odha dari rumah sakit yang sama. Dan mereka saat ini masih menjadi teman-teman baik saya. Mereka bisa bekerja sesuai keahlian mereka. Saya bangga dengan mereka. Tetaplah semangat teman!

Tahun 2017 saya lebih banyak mengenal teman-teman odha dari latar belakang yang berbeda. Ibu rumah tangga, kepala keluarga, gay, waria, pengguna IDU yang semuanya memberikan warna yang berbeda bagi kebidupan saya. Dari mereka saya bisa memetik pelajaran walau kita saat ini odha namun kita masih bisa hidup layak seperti orang yang tidak terinfeksi hiv. Saya salut dengan mereka!

April 2016 dan Januari 2017 saya pernah melakukan tes viral load dan hasilnya keduanya adalah tidak terdeteksi. Alhamdulillah. Semua berkat Tuhan YME yang telah memberikan anugrah kepada para ilmuwan untuk bisa menemukan ARV. Dengan ARV odha bisa hidup sehat, berumur panjang, dan bisa melakukan banyak hal untuk meraih impian mereka.

Kalau bisa memiliki 5, 10, atau bahkan 30 tahun lagi kehidupan dengan syarat kita harus terapi ARV seumur hidup. Maka saya akan menjalaninya. Saya akan patuh untuk minum ARV, Saya akan rajin sebulan sekali mengambil ARV ke rumah sakit. Kenapa? Tambahan beberapa tahun kehidupan bagi kita sangat-sangatlah berarti dan sangat memberikan warna yang berbeda bagi kita dan tidak sebanding dengan efek ARV yang ditulis diluaran sana. Saya mau membayar efek ARV yang terjadi pada tubuh saya jika saya masih bisa memiliki 5,10 , atau 30 tahun kehidupan lagi.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk:

BF saya Jerry Almarhum yang telah memerikan Cinta Tanpa Balasan. 5 tahun menjalin hubungan dengan kamu banyak hal yang kau ajarkan pada saya. Cinta, kerja keras, kegigihan, welas asih dan masih banyak hal lainnya.

Tedy Almarhum, masih ingat aq saat kau mengatakan akan menguasai suara peluti layaknya Mariah Carey. Oh Man akhirnya kau memilikinya setelah ratusan kali latihan!

Teman-teman odha yang baru mengeahui status. Segeralah kembali ke rumahsakit untuk menjalani terapi ARV. Saran terbaik saya sampai hari ini adalah ARV masih merupakan pengobatan terbaik untuk HIV saat ini.

Semua teman-teman yang bekerja di LSM khusus HIV AIDS, tetaplahberjuang kawan, bantuanmu kepada sesama teman sebaya walau sekecil apapaun akan tetap memberi manfaat yang besar bagi mereka. Semoga Tuhan memberikan balasan yang layak kelak dikehidupan yang lebih kekal nanti. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *