FDA Ketok Palu Penggunaan ARV Dua Regimen

Square

arv jenis juluca

Dolutegravir dan Rilpivirine masing-masing produksi ViiV dengan nama ‘Tivicay’ dan Janssen ‘Edurant’ dijadikan satu tablet untuk dipakai terapi ART yang menggunakan dua regimen.

FDA (Food and Drug Administration) atau lembaga di Amerika yang mengurusi masalah administrasi obat dan makanan untuk pertama kalinya menyetujui penggunaan dua regimen ARV untuk terapi ART, dimana umumnya orang yang positif HIV harus mengkonsumsi sedikitnya tiga atau lebih regimen setiap harinya untuk menekan jumlah virus HIV yang ada di dalam tubuh mereka.

Juluca hadir sebagai kombinasi dolutegravir plus rilpivirine dalam satu tablet kini hadir sebagai pilihan alternatif pengobatan ARV bagi para odha (orang dengan HIV AIDS).

Baca disini manfaat terapi ARV bagi orang dengan positif HIV

FDA mendasarkan keputusannya ini berdasarkan hasil penelitian SOWRD 1 dan 2 yang melibatkan 1024 orang yang sebelumnya telah sukses dengan terapi ARV tiga regimen. Para relawan yang patuh minum ARV kombinasi tiga regimen kemudian secara random dipilih untuk tetap menggunakan ARV yang sebelumnya atau diganti dengan menggunakan JUluca. Hasilnya setelah 48 minggu relawan yang memilih menggunakan dua regimen ternyata memiliki laju pengurangan virus yang sama denngan relawan yang tetap menggunakan tiga regimen.

Sebaliknya pada kurun waktu yang sama 0,6 persen group yang memilih pindah ke dua regimen viral load mereka lebih dari 50 jika dibandingkan dengan 1,2 persen gorup yang tetapp menggunakan tiga regimen. Hasil penelitian ini di laporkan dalam Konferensi Retrovirus dan Infeksi Oportunitis di Seatle Februari 2017 lalu.

Syarat Pindah Ke Dua Regimen
Tidaklah mudah orang yang positif HIV yang telah menggunakan tiga regimen untuk bisa pindah ke dua regimen. FDA menyaratkan odha yang akan pindah memiliki viral load tidak terdeteksi setidaknya setelah minimal enam bulan pengobatan dengan menggunakan tiga regimen. Ketentuan tambahan adalah yang bersangkutan tidak memiliki riwayat gagal terapi ARV atau diketahui memiliki resistensi terhadap dua regimen yang terdapat dalam Juluca.

Kandungan Juluca terdiri dari dolutegravir dengan nama brand ‘Tivicay’ 50 mg yang merupakan golongan ARV dari jenis integrase inhibitor dan rilpivirine yang sebelumnya dijual dengan nama ‘Edurant’ 25 mg yang merupakan golongan dari non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor.

Efek yang paling umum yang dialami oleh pengguna Juluca yaitu diare dan pusing dimana dilaporkan hanya diderita oleh 2 persen relawan yang mengikuti penelitian diatas.

Apa saja sih efek ARV yang sebenarnya tidak perlu kta khawatirkan?

Secara teori terapi ART yang menggunakan dua regimen memiliki toksisitas yang lebih rendah jika di bandingkan dengan terapi yang selama ini menggunakan tiga regimen. Studi lebih lanjut dimasa depan akan dapat memberi jawaban terhadap pertanyaan ini terutama yang menyangkut kesehatan tulang dan ginjal.

Terapi ARV dengan dua regimen tentu saja merupakan kabar yang menggembirakan bagi para OHDA mengingat dengan terapi ini mereka tidak terlalu banyak mengkonsumsi obat setiap harinya dengan demikian harapan untuk efek samping dikemudian hari dapat pula diperkecil. Semoga penggunaan Juluca bisa segera dinikmati oleh para odha di Indonesia. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *