Cinta Gay, Cinta Abadi?

Square

Ceritanya saya punya temen neh, sebut namanya sebagai Tole. Tole ini baru pacaran 1,5 tahun serta hidup bersama dalam satu kos dengan bfnya ini. Jika di lihat dari tampang keduanya seh, kayaknya mereka jodoh. Gimana tidak dua orang gay ini memiliki paras muka yang bisa dikatakan lumayan. Ibaratnya jika mau ketemuan dengan orang ga bakalan susah dech untuk sekedar mendapatkan teman kencan.

Saya ingat si Tole ini pernah cerita bahwa dia sangat sayang terhadap bfnya, bahkan saking sayangnya mereka pun mencari jodoh ‘wanita’ yang asal daerahnya juga sama. Rencananya seh setelah mereka berdua menikah nanti, keduanya tidak pingin berpisah, bahkan bfnya punya target bisa membuka restoran hingga si Tole ini bisa ikut serta untuk mengelola usahanya.

Tapi anehnya, baru pacaran seumuran tiga kali panen jagung, yang saya herankan adalah keduanya sudah tidak ada ‘rasa’ lagi untuk em el. Artinya kedua belah pihak memiliki kesepakatan untuk mencari pasangan tidur sendiri-sendiri. wow!

Saya bahkan sempat bertanya kepada teman saya ini, ‘lalu dimanakah letak cinta itu’? Apakah cinta mereka hanya sebatas memiliki aktifitas bersama, saling berbagi sesuatu bersama, dan menikmati kebersamaan bersama. Bukankah sangat beresiko jika kita secara terpisah mencari pasangan hanya untuk em el? kecemburuan, kecurigaan, bahkan keinginan untuk mengorek pasangan em el pacar kita sangat rentan menghantui hati masing-masing individu?

Bener saja apa yang saya khawatirkan, beberapa minggu terakhir si Tole dan bf nya ini dilanda banyak perselisihan. Dan puncaknya terjadi hari ini dimana dipicu oleh si bf yang tidak mau menshare password hp dia. Sebelumnya memang ada perjanjian bahwa keduanya bisa mengetahui password android mereka.

Kecemburuan menjembati pertengkaran mereka berdua, hingga salah satu pihak harus keluar dari kos. Akhir cerita cinta keduanya pun berakhir kandas tepat seminggu sebelum lebaran.

Lalu dimana mereka berdua meletakkan cita-cita mereka untuk bisa selalu bersama? Apakah ego dan kecemburuan membakar hangus semua kenangan yang telah dihabiskan selama 1,5 tahun ini? Saya tahu 1,5 tahun bukanlah waktu yang singkat dan saya tahu mereka berdua memiliki memori suka dan duka yang sulit untuk dilupakan.

Apakah cinta gay harus berakhir seperti ini? Adakah cinta gay yang abadi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *