Cerita Myke Jonses Positif HIV Karena Tertular dari BF nya

Square

 

 

 

cerita orang yang positif hiv2014 adalah tahun terberat di kehidupan saya. Mulai cerita darimana ya saya bingung sendiri. Tapi…..gini saja saya mulai pengalaman saya diawali di tahun 2011 dimana saya bertemu ‘the right one’. Kala itu usiaku masih 25 tahun, baru lulus kuliah dan syukur saya sudah bekerja. Namun, sayangnya saya merasa kehidupan saya masih kurang komplit terumata kehidupan ‘gay dating’ saya.
Di zaman sekarang yang serba internet, tentu saja semua gay pastinya sudah tahu bagaimana mendapatkan ‘gay dating’. Tinggal pasang aplikasi di HP mereka dan ‘viola’ ketemuan dalam hitungan menit pun bisa saja terjadi hehehe. Saya tinggal di kota kecil dengan dua Universitas, dengan kekuatan internet pula saya akhirnya bertemu dengan caon BF saya secara online.
Saya ingat waktu malam malam mingguu. Kami berdua bertukar foto, begtiu hal itu terjadi saya langsung terpikat dengannya. Dia tidak memiliki mobil jadi kami memutuskan untuk bertemu di parkiran Walgreens. Saat memasuki pintu parkir saya melihat pasangan kencan saya, seorang pria dengan tinggi 5’11 feet, berat sekitar 75 Kg, berkulit cokelat. Seorang pemuda yang sangat tampan memasuki mobil saya dan aq pun mengajaknya ke rumahku.
Kami berdua berbincangg selama 4,5 jam lebih sebelum kami melakukan em el pertama yang sangat dahsyat, setelah dia tertidur dilenganku. Sepertinya saya pikiran saya tenang bersamanya. Selanjutnya kami pun sering berpergian bersama, setahun kemudian dia pindah dari apartemennya dan kami pun hidup bersama dirumahku hingga 2014.
Sepertinya Tuhan sudah memberikan pertanda yang jelas kepada saya. Saat pertama kali tidur bersamanya, badan saya basah akibat keringat malamnya, Dia berkata kepada saya bahwa hal itu normal terjadi padanya dan itu bersifat alami. Kadangkala tanpa alasan yang jelas dia menangis dan bahkan sampai depresi yang begitu mendalam, atau dia bahkan jatuh sakit tapi tidak mengijinkan saya berada di sampingnya. Sebelum meninggal dia mengatakan bahwa dia memiliki peradangan di lambungya dan hal inilah yang membuat kesehatannya menurun. Tapi semua itu bohong belaka: Dia positif HIV tapi sayangnya dia menyangkal hal ini.
Sebelum bertemu dengannya 2011 lalu saya melakukan tes VCT tapi hasilnya negatif. Saya tidak melakukan kencan dengan yang lain selama berpacaran dengannya. Bila dirunut kebelakang setidaknya saya terinfeksi pada 2012. Saya inget saya pertama kali mengalami keringat malam, demam tinggi, dan tanda-tanda seperti flu pada saat itu namun karena saat itu saya sedang jatuh cinta maka saya mengabaikan hal ini. Saya berfikir bahwa orang yang terinfeksi HIV akan sangat mudah dikenali tapi sayangnya hal ini tidaklah benar. Saya merasa sehat selama waktu yang lama berat badan saya pun tidak turun.
Sejak kami tinggal bersama kami melakukan hubungan seks tanpa menggunakan kondom. Kami sering melakukan treesome, party, saya melakukan hal ini untuk membuatnya tetap bahagia. Saya merasa aneh dengan hal ini tapi karena saya menyayanginya saya pun membiarkan hal ini dan saya tahu bahwa dia mencintai saya. Kami bahkan membeli anjing peliharaan dan kami pun menjadi sebuah keluarga kecil.

Begitu virus HIv dalam tubuh saya berkembang,saya pun sering sakit sakitan. Pulang kerja jam 5 sore dan tidur hingga pukul 7 pagi keesokan harinya tapi saya tetap merasa kelelahan saat saya bangun. Saya memutuskan untuk beristirahat. Anjing saya dan BF saya dalam keadaan baik, sehingga saya memutuskan untuk mengambil cuti liburan sendirian selama seminggu dirumah mama saya yang jauhnya 5 jam perjalanan.

Pada saat saya mau berangkat dia tidak mau saya pergi dan dia terlihat begitu sedih. Saya tidak sadar bahwa hari itu adalah hari terakhir saya melihatnya.
Begitu saya sampai dirumah mama saya merasa begitu lelahnya hingga saya langsung ke kamar dan tidur. Ibu saya yang seorang perawat tiba dirumahdan memeriksa kondisi saya. Dia mengatakan saya terlihat tidak begitu sehat dan saya pun merasa begitu. Lambung saya terasa sakit, saya bertambah parah hingga akhirnya harus ke rumah sakit dua hari setelahnya. Saya mengalami usus buntuk dan harus segera menjalani operasi.
Saya harus berada di rumah sakit untuk beberapa minggu. Saya menelponnya untuk mengabari kondisi saya, tapi setelah seminggu kemudian tak ada kabar darinya, bahkan SMS pun tidak di balas. Setelah saya lepas dari rumah sakit, pengurus apartemen menelpon saya dan mengatakan bahwa kenapa saya pindah tanpa adanya pemberitahuan? saya pun terkejut karena saya tidak berada di kota tempat tinggal saya karena keadaan saya. Saya terus mengirim SMS kepadanya tapi tetap belum ada balasan hingga nomornya pun tidak aktif.
Sungguh saya merasa khawatir, kami tidak memiliki teman hingga saya tidak punya seseorang untuk saya coba hubungi guna mengetahui kabar BF saya. Saya cek apartemen saya dan ternyata kosong, di perut saya masih dipasang selang untuk mengeluarkan cairan dari usus saya. Saya tidak bisa tidur untuk beberapa hari, saya sungguh rindu padanya begitu juga dengan anjing saya.
Saya begitu depresi, saya diputus kerja, dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah orang tua saya. Sebulan rasanya seperti menjadi mayat hidup. Saya kehilangan 15 kg, kehiangan nafsu makan, saya kehilangan rasa bagaimana itu hidup dan sehari hari pekerjaan saya hanya tidur.
Oktober 2014 ibu saya menyuruh saya untuk tes VCT namun saya menolaknya. Saya merasa kecewa dengannya karena menghakimi saya jika saya memiliki penyakit tertentu hanya karena orientasi seksual saya yang gay. Dan buruknya lagi HIV adalah salah satu penyakit yang sering menyertai kehidupan GAY. Tapi saya tidak bisa menolak permintaan mama saya, Setelah hasilnya keluar doktor mengatakan hal yang akan selalu saya ingat, yang mengatakan, ‘Tuan Anda positif HIV’.
Mama saya sungguh shock dan menangis sambil merebahkan badannya di kursi sambil mengutuk Tuhan kenapa hal ini terjadi pada saya, sedangkan saya hanya terdiam shock. Saya telah kehilangan semuanya, saya ingin bunuh diri, saya tidak punya pekerjaan, tak punya penghasilan atau asuransi. Biaya ke lab saat itu 200 dollar tiap kunjungan, saat itu saya tidak punya uang dan tidak tahu harus mencari pertolongan kemana.
Mama saya menghubungi paman dan bibi saya dan mereka berdua menjadi orang yang sangat mendukung saya. Paman saya menemukan layanan HIV Ryan White namun sakit saya menjadi bertambah parah, ada jamur di lidah saya dan punggung saya terkena psoriasis dan rasanya sangat sakit. Saya tahu HIV saya menjadi AIDS.
November 2014 Ryan White akhirnya berhasil membawa saya untuk periksa lab dan ternyata CD4 saya hanya 14. Pada saat ini saya di fonis terkena penumonia juga, saya sering demam dan sering keluar masuk rumah sakit. Ryan White akhirnya berhasil memberikan 90 hari voucher untuk mengkonsumsi Striblit.
Setelah terapi Stribilt maka CD4 saya semakin meningkat, dan saat ini viral load saya hasilnya tidak terdeteksi. Saya membangun kehidupan saya kembali dan saya merasa bahagia karena saya masih HIDUP.
Ya saya positif HIV, saya hidup bersama AIDS tapi saya masih tetap hidup. Bagi siapa saja yang positif HIV maka lakukan test secara teratur dan selalu gunakan kondom saat melakukan em el.

Di sadur dari POZ sesuai cerita aslinya oleh Myke Jones

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *