Pernah dengar pepatah yang mengatakan ‘Salah satu hal terbaik dalam hidup adalah melihat senyum di wajah orantuamu, dan menyadari bahwa kamulah alasannya,”

Mungkin pepatah inilah yang bisa menggambarkan perjuangan hidup saya saat berjuang untuk bisa sehat kembali ketika saya dalam kondisi sakit saat awal divonis HIV, bukan hanya penyakit yang datang pada saat itu, tapi masalah serta rasa putus asa untuk menyerah datang menghantui pikiran.

Flash back kembali ya, sekitar November 2014 lalu saya dinyatakan positif HIV. Tapi beruntung kondisi saya masih sehat, saya masih bisa jalan, dan baik-baik saja seperti orang normal. Cd4 saat itu 239, dan dokter yang menangani saya memberikan cotrim untuk sementara.

Kira-kira dua minggu setelah hari itu tim medis menyarankan saya untuk terapi arv jenis neviral-duviral. Informasi yang tepat dari kelompok dukungan sebaya (KDS) mengenai pentingnya ARV membuat saya tak ragu lagi untuk segera menyetujui hal tersebut.

Tapi sayang kurang lebih 14 hari minum arv neviral duviral ada sesuatu yang aneh terjadi dalam diri saya. Di kulit saya timbul bintik-bintik warna merah. Karena tidak tahunya saya tentang hal ini maka kejadian ini saya biarkan hingga akhirnya timbul ruam merah diseluruh kulit yang semakin parah, 24 Desember 2014 pun langsung berangkat ke Surabaya, dan keesokannya tepat Natal 2014 saya resmi di rawat di RS Dr Soetomo.

Saya opname selama lima hari, hanya orang tua dan kakak yang saat itu bergantian menjaga saya. Disaat saya dirawat dirumah sakit inilah saya merasakan nikmatnya ‘SEHAT’ salah satu anugrah Tuhan bagi hambanya, dimana saya semakin sedih sebab malam pergantian tahun baru yang dirayakan orang diluar dengan penuh kegembiraan, tapi kenyataannya saya malah terbaring di kamar upipi. 🙁

Awal tahun baru sedikit kebahagiaan menghampiri saya, saya diperbolehkan pulang. Saya pun kembali ke rumah ortu disalah satu kota kecil yang ada di Jawa Timur. Namun, permasalahan datang kembali. Dokter yang sudah mengganti arv dengan jenis duviral-efavirenz hanya memberikan stok untuk dua minggu.

Kondisi saya saat itu saya sedang tidak bekerja. Ortu yang mengetahui status ODHA saya melarang saya kembali ke Surabaya dengan alasan kalau dekat dengan ortu maka mereka bisa meninjau kesehatan saya dengan baik. Mau minta ke ortu uang untuk transport ke Surabaya tapi saya sadar hal ini tidak mungkin karena saya tahu kondisi babak dan ibu saat itu. Dan minta ke kakak juga malu sebab saya tidak ingin membebani kaka saya dengan permasalahan saya.

Pikiran-pikiran negatif pun menghinggapi saya, kebuntuan otak datang menghampiri hingga saya memutuskan untuk berhenti terapi ARV dan memilih menenangkan diri di sebuah pondok. Saat itu banyak teman KDS yang mengkhawatirkan kondisi saya, takut terjadi hal yang tidak pada diri dan ini saya perburuk dengan menghilangkan sejenak kontak saya dengan dunia luar.

Selang dua minggu pun pikiran saya sudah mulai agak tenang, KDS memberikan banyak pengetahuan mengenai pentingnya ARV bagi kita dan akibat jika kita berhenti untuk meminumnya. Saya mulai terbayang salah satu pasien Dr Soetomo yang saat itu kondisi tubuhnya sudah kurus kering dimana untuk makan dan menelan obat saja tidak mungkin. Bahkan keluarganya memasukan selang pada tenggorokannya agar si pasien ini bisa makan dan minum obat. Ya, Tuhan saya tidak mau kondisi saya seperti itu dan saya tidak mau dirawat lagi di upipi.

Wajah orang tua juga sering membayangi saya, saya belum membahagiakan mereka. Say abelum menjadi anak yang berbakti, dan saya tidak mau mati untuk saat ini. Tidak tahu tiba-tiba semangat untuk tidak menyerah hanya karena HIV mulai menyelimuti kalbu saya, hingga saya akhirnya memberanikan diri untuk ke salah satu rumah sakit di kediri untuk minta ARV, walau tanpa adanya surat rujukan dari Surabaya.

Tuhan rupanya masih menolong saya, pihak rumah sakit pun memberikan ARV. Saya pun dihubungkan dengan KDS di kota ini hingga saya merasa memiliki dukungan kembali seperti KDS yang ada di Surabaya.

Tapi, cobaan yang saya alami belum berakhir rupanya setelah melanjutkan ARV ternyata kondiloma saya kambuh. Dulu pernah sih operasi kondiloma tapi tak tahu kenapa infeksi ini bisa menyerang saya kembali. Tak putus harapan saya pun berobat di salah satu puskesmas yang ada di kota saya dan hingga saat ini masih dalam pengobatan.

Memang sih ‘setelah hujan dan badai akan turun pelangi’, tepat seperti bagian dari kehidupan saya selanjutnya. Saya sekarang sudah bekerja kembali, sudah sehat yang ditandai dengan naiknya CD4 menjadi 315, dan saya jauh lebih bahagia karena saat ini saya masih bisa menemai orang tua saya.

Pesan saya pada odha di luar saya, kalian tidak sendiri kok, berusahalah untuk memiliki semangat hidup dan tetap rajin ya minum ARV. Salam hangat 🙂 from ‘M’.

5 Replies to “Aku Gak Mau Menyerah Hanya Karena HIV”

      1. odha butuh biaya untuk tes viral load yang murah apalagi yg di cover bpjs, selama ini tes viral load tidak dicover bpjs begitu juga dengan tes cd4. jadi kalao tes keduanya maka harus dengan biaya sendiri 🙂

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *