5 Tahun Saya Positif & Saya Sehat Sekarang, Alhamdulillah!

Square

Rasanya waktu bergulir cepat jika kita menikmati kehidupan kita. Masih inget saya di awal-awal 2010 lalu saat divonis HIV positif rasanya dunia menjadi gelap, seolah kita dibenamkan pada lumpur lapindo, dan kita tuh berasa hidup kita udah tidak berarti lagi. Ironis ga sih saya tahu bahwa saya positih HIV empat hari sebelum ulang tahun saya yang ke-31.

Ternyata Tuhan tidak hanya memberi ujian saya itu saja, TBC serta tipes juga menggeroogoti tubuh saya. Berat badan saya turun hingga 55 dari 62 kg, karena banyak cairan di paru-paru saya maka untuk jalan beberapa meter saja saya sudah ngos-ngosan seperti habis berlari sprint 100 meter dalam waktu singkat. Alhasil saya pun harus istirahat total, tak tanggung-tanggung enam bulan booo.

Dokter yang merawat saya (Alhamdulillah sudah pengalaman menangani ODHA) tidak menganjurkan saya untuk minum ARV. Saya harus sembuh dari TBC dulu, ini artinya saya harus minum obat setiap hari selama enam bulan (dan saya pun bisa melewatinya). Bukan hanya itu, disebabkan saya belum konsumsi ARV maka saya harus minum kotrim (cotrimoxazole) dua kali sehari dua butir untuk mencegah infeksi bakteri atau jamur pada tubuh saya.

Dan, ternyata dari dorongan diri yangkuat untuk bisa sembuh dan kemamuan untuk bisa bertahan hidup. Dua bulan pertama setelah minum obat TB saya sudah bisa jalan jauh dan beraktifitas seperti orang normal (saya juga bisa mengendarai motor saya). Empat bulan sesudahnya saya sembuh dari TBC sekali lagi Alhamdulillah.

Perjuangan belum selesai bro, pengobatan pun dilanjutkan. Dokter menyarankan untuk masuk ARV dan saya pun menyetujuinya. Saya mulai cari tuh info ARV di Google, dan ternyata banyak berita jeleknya dibanding good newsnya. Berita jeleknya masuk telinga kanan keluar telinga kiri bro, yang saya pikirkan saat itu hanya bagaimana saya bisa bertahan hidup sebagai ODHA.

Alhasil terapi ARV pun dimulai, sebulan kawan saya sering mengalami mual dan pusing. Mualnya kayak orang mabuk naek kendaraan, dan pusingnya kayak habis naek komedi putar. Tapi saya harus terus bertahan, manajer kasus saya memberi suport dan dukungan penuh bagi saya. Hati pun terbisa dengan afirmasi bahwa saya bisa melewati hal ini. Saya pun mengurangi beberapa aktifitas saya hingga 50% dan memperbanyak makan buah dan minum jahe untuk mengurangi rasa mual.

Alhamdulillah efek itu hanya sebulan, dan sekarang saya sudah minum ARV selama hampir lima tahun. Beberapa teman saya yang baru mengalami efek yang tidak enak saat minum ARV hanya dua minggu dan beberapa diantaranya bahkan tidak mengalami efek samping.

CD4 saya saat divonis HIV positif 154 dan sekarang 600 lebih. Saya hidup seperti orang normal lainnya bahkan saya bisa ikut fitnes untuk memperbesar otot saya 🙂

Bagi teman-teman yang saat ini divonis HIV atau AIDS janganlah berputus asa, kalian tidak sendiri. Banyak kok orang lain diluar sana yang juga di vonis HIV bahkan saat Anda membaca artikel ini pasti ada yang juga orang yang menerima kabar bahwa dirinya positif HIV.

Seperti apa kata film pendek ‘CONQ’ divonis HIV bukan berarti divonis mati yaaaa, lakukan terapi pengobatan terbaik, pilih rumah sakit yang sudah berpengalaman menangani kasus HIV dan milikilah kemauan yang kuat bahwa kamu bisa melewati hal ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *