12 Tahun Konsumsi ARV, Anak Ini Bertahan Hidup Hingga Sekarang

Josephine Nabukenya anak dengan hiv yang bertahan hidup

Josephine Nabukenya, seorang remaja putri berusia 23 tahun yang berasal dari Kampala, Uganda, Afrika. Siapa yang menyangka gadis energik dan cantik ini positif HIV sejak masih kanak-kanak.

Saat menginjak usia 8 tahun, Nabukenya tak sengaja membaca secarik kertas testimoni Ibunya yang menceritakan bahwa Ayah, Ibu, dia, dan saudara perempuannya terinfeksi. Hal ini membuat dirinya mendapatkan jawaban yang selama ini ia cari kenapa keluarganya selalu sakit-sakitan. Walaupun kini dia sudah tahu bahwa dia adalah anak dengan HIV namun, Nabukenya tidak mengklarifikasi hal ini kepada orang tuanya. Diapun menyimpan rahasia ini dalam hatinya.
Josephine Nabukenya anak dengan hiv yang bertahan hidup

Dua tahun kemudian, Ibunya membuka status HIV keluarga pada Nabukenya kemudian membawa bocah cilik ini ke layanan kesehatan untuk mendapatkan akses pengobatan. Dari rumah sakit lokal di Kampala, Nabukenya akhirnya bertemu dengan lembaga swadaya masyarakat ‘Ariel Club’ yang bergerak untuk memberikan dukungan bagi anak yang hidup dengan HIV. Lembaga ini dikelola oleh Elizabeth Glaser Pediatric AIDS Foundation (EGPAF). Di Ariel Club, keluarga Nabukenya bertemu dengan keluarga yang lain yang juga memiliki permasalahan yang sama untuk belajar mengenai kepatuhan, cara membuka status, cara menghadapi stigma dan diskriminasi, dan bagaimana hidup lama dengan HIV.

Nabukenya Termasuk Gadis Yang Beruntung
Diperkirakan terdapat 3,4 juta anak yang hidup dengan HIV di dunia. Nabukenya termasuk anak yang beruntung sebab dia dapat mengakses terapi ARV yang merupakan satu-satunya cara agar bisa bertahan hidup. Menurutnya saat awal dia mendapatkan pengobatan 3/4 anak yang terinfeksi HIV tidak akan bisa bertahan hidup.

Di Ariel Club, Nabukenya aktif mengikuti acara pertemuan dan melakukan berbagai macam aktifitas seperti bermain games, menulis, bernyanyi, dan membaca berbagai macam kisah yang berbeda. Hal inilah yang menjadikan remaja ini nyaman untuk berbagi mengenai kisah dirinya dengan orang lain. Dengan berbagi kisah ini maka kepercayaan dirinya pun mulai berkembang, Nabukenya pun tak segan untuk menceritakan kisah dirinya ke anak yang terinfeksi HIV di wilayahnya agar anak tersebut mau mengakses pengobatan dan tahu bagaimana bersinergi hidup dengan HIV. Hal inilah yang akhirnya mendorong EGPAF untuk menjadikan Nabukenya menjadi ambasador muda anak hidup dengan HIV.

Stigma dan Diskriminasi Yang Masih Saja Ada
Pada tahun 2005 Nabukenya diundang untuk mewakili anak yang hidup dengan HIV dari Afrika guna berbagi kisahnya di Kongres Amerika. Dia pun menjadi terkenall di Uganda. Setelah kepulangannya dari USA, seluruh teman sekolahnya mengetahui status HIVnya yang menyebabkan banyak temannya yang tidak mau berinteraksi dengannya. Diapun pindah sekolah, namun sayangnya di sekolah yang baru hal yang sama pun terjadi.

Nabukenya pun menyadari bahwa dirinya tidak dapat menghindar dari adanya stigma dan diskriminasi mengenai HIV AIDS yang masih melekat di masyarakat, diapun memutuskan untuk menghadapi hal ini. Hal ini dibuktikan olehnya dengan berbicara didepan ribuan rakyat Uganda saat memperingati Hari AIDS Sedunia tahun 2006, tahun dimana dia mengawali terapi ARV untuk dirinya.

Nabukenya Yang Sekarang
Nabukenya telah lulus dari Makerere University Uganda di bidang ‘sosial work’. Kegiatan traveling bersama EGPAF membuat dirinya memutuskan untuk bekerja dari rumah. Saat ini dia mengelola kegiatan pengumpulan dana untuk mensuport anak yang hidup dengan HIV, dia juga memiliki usaha cuci mobil.

Nabukenya adalah pendiri ‘Young Generation Alive’ yang merupakan komunitas pelajar yang berfokus untuk melawan stigma dan diskriminasi yang terjadi di komunitas dan membantu anak dengan HIV untuk bisa menjalani hidup yang positif.

“Tanpa pengobatan, saya tentu saja tidak akan memiliki pengalaman tumbuh bersama orang tua dan kedua adik saya. Tanpa terapi ARV saya tidak akan dapat bersekolah dan mengejar cita-cita saya untuk bisa menjadi jurnalis atau pengacara,” tutur Nabukenya.

“Tanpa pengobatan saya tidak akan berkontribusi terhadap masyarakat menjadi relawan, tenaga advokasi, dan pendukung sebaya. Bahkan saya tak bisa menjadi seperti sekarang. Mimpi saya adalah membantu anak-anak didunia untuk bisa menangani statusnya dan memiliki kehidupan yang positif,” tambahnya.

Baru-baru ini hasil kerja Nabukenya diakui oleh PBB, bahkan Ratu Elizabeth memberikan penghargaan ‘Queen’s Young Leader Award’ pada tahun 2016 yang lalu.

Referensi:
https://www.poz.com/article/josephine-nabukenya

Josephine Nabukenya


http://www.apg23.org/downloads/files/ONU/Consigli/22%20Consiglio/Josephine%20NABUKENYA.pdf